Diposkan oleh AREMA_KITA : 12 March 2012

Bom Waktu PSSI ...

Salam Satu Jiwa

Arek Malang Aremania Arema Indonesia Singo Edan Salam Satu Jiwa

PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husin dkk kian compang-camping. KLB pun didorong kian kencang dari berbagai sisi. Bom waktu segera meledak.

Banyak pihak, termasuk beberapa anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, mengungkap itu. Bom waktu berupa Kongres Luar Biasa (KLB) pun menanti kepengurusan PSSI yang belum genap berumur setahun.

Anggota Exco PSSI La Nyalla Matalitti nyaring meneriakkan digelarnya KLB PSSI. Terlebih setelah hasil rapat Exco PSSI yang digelar 30 September di Hotel Sahid, Jakarta, tidak sesuai harapan mayoritas klub peserta Indonesia Super League (ISL) dan beberapa anggota Exco PSSI.

"Sekali layar terkembang, pantang surut," tegas La Nyalla menanggapi hasil rapat Exco PSSI yang waktu itu bersikeras memutuskan peserta ISL 2011/2012 berjumlah 24 klub.

La Nyalla tidak sendiri. Banyak lagi pihak bersikap serupa. Sebutlah Roberto Rouw, Tonny Apriliani, dan Erwin Dwi Budiawan. Mereka 1 suara dengan Ketua Pengprov Jatim yang telah dilengserkan PSSI itu.

Selain tak sepakat dengan jumlah klub peserta ISL 2011/2012, keempat anggota Exco PSSI itu pun tak sependapat dengan keputusan PSSI mengenai
penyelesaian masalah dualisme Persija Jakarta dan Arema.

Untuk kasus Persebaya, mereka lebih bisa menerima karena tuntutan merger yang melibatkan 2 kubu yang berseteru di tubuh Bajul Ijo dikabulkan PSSI.

'Dosa PSSI' di mata mereka tak berhenti di situ. Pemutihan sanksi 2 klub yang musim lalu tercatat sebagai peserta Liga Primer Indonesia (LPI), Persema Malang dan Persibo Bojonegoro, menambah rentetan catatan buruk PSSI era reformasi pimpinan Djohar.

Kini, PSSI pun menanti bom waktu berupa genderang KLB yang dielu-elukan La
Nyala dkk meledak. Lebih-lebih, blunder Djohar dkk kian menumpuk. Bukan cuma pemunculan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang merebakkan dualisme kompetisi, tapi juga rentetan kasus lain.

Sebutlah kasus penilihan hak Persipura Jayapura tampil di Liga Champions Asia yang akhirnya dipulihkan CAS, kasus Diego Micheils yang mengangkangi kontrak dengan Pelita Jaya FC, mundurnya pelatih terbaik nasional Rahmad 'RD' Darmawan, pembentukan timnas yang asal-asalan sehingga memuncratkan aib bagi bangsa Indonesia akibat digebuk Bahrain 10-0, dan deretan kasus lain.

Semangat rekonsiliasi yang didengungkan Djohar ketika posisinya sudah kian tersudut pun cenderung berkesan slogan semata. Selain, tentu, kisruh sudah kadung meluas dan kompleks. Sudah memakan banyak korban.

Kini, La Nyalla bukan lagi sekadar didukung 18 klub peserta ISL 2011/2012. Ia, bahkan, sudah berjalan di bawah payung Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) pimpinan Tonny Apriliani, yang dibentuk lebih dari 2/3 anggota PSSI.

Belakangan, KONI Pusat sebagai induk dari semua organisasi olahraga di Tanah Air (termasuk PSSI) pun sudah menyalakan lampu hijau. KONI Pusat bukan sebatas memahami mengapa 2/3 lebih anggota PSSI melalui KPSI menghendaki KLB, tapi berjanji mengawal hajat yang bakal digelar 17-18 Maret 2012 itu.

KLB yang kini didukung banyak pihak karena merindukan kondisi persepakbolaan Indonesia segera kondusif, tak ubahnya bom waktu yang disulut PSSI pimpinan Djohar sendiri. Dan, kini, sumbu menuju titik ledak sudah kian pendek.

Nah, mau berkelit ke arah mana lagi, Djohar Arifin dkk ?

(bramono/sportiplus)

Save and Share bila Berita ini menarik untuk berbagi dengan orang lain :

Tweet This ! Share On Facebook ! Share On Google Buzz ! Add To Del.icio.us ! Share On Digg ! Share On Reddit ! Share On LinkedIn ! Post To Blogger ! Share On StumbleUpon ! Share On Friend Feed ! Share On MySpace ! Share On Yahoo Buzz ! Share On Google Reader ! Google Bookmark ! Send An Email ! Lintas Berita !

ARTIKEL TERKAIT :

 
© 2016 Beranda | Indeks