Diposkan oleh AREMA_KITA : 10 August 2011

Djohar Arifin Husin : Jangan Malu, Belajarlah Pada Arema

Salam Satu Jiwa


Djohar Arifin Husin : Jangan Malu, Belajarlah Pada Arema
Assessment atau penilaian oleh PSSI baru dilakukan pada minggu ketiga bulan Agustus 2011 ini, dilanjutkan dengan inspeksi oleh AFC (Asian Football Confederation) pada akhir bulan September nanti. Namun Arema Indonesia sudah dipastikan masuk kategori klub professional. Setidaknya hal ini menurut keterangan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin saat menghadiri diskusi sepakbola di Malang.

Ada 9 klub professional yang menurutnya sudah layak mengikuti kompetisi profesional seperti persyaratan AFC. Satu diantara 9 klub itu adalah Arema Indonesia. Sembilan klub lainnya, enam klub dari kompetisi Indonesia Super League (ISL) yaitu Arema, Semen Padang, Persib Bandung, Pelita Jaya, Deltras Sidoarjo dan Sriwijaya FC. Ditambah tiga klub dari kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yaitu Persema Malang, PSM Makassar dan Persibo Bojonegoro.

"Ya, itulah sembilan klub yang sampai saat ini layak jadi klub profesional, dari ISL ada enam klub dan dari LPI ada tiga klub. Klub-klub ini yang memenuhi lima syarat dari AFC untuk klub professional," ungkap Djohar.

Lima aspek yang menjadi penilaian klub profesional itu meliputi aspek legal, finansial, administrasi personal, supporting dan infrastruktur. Menurut Djohar, sembilan klub yang disebutkannya itu telah memiliki lima aspek klub professional dan layak berkompetisi di level 1.

"Dari lima syarat tersebut terlihat sudah dipenuhi dan dimiliki oleh sembilan klub itu," terang Djohar memastikan lima aspek itu wajib dipenuhi klub-klub yang ingin tampil di level kompetisi tertinggi sesuai ketentuan AFC, sekalipun dari sembilan klub itu tak tercantum nama Persipura Jayapura sebagai juara ISL musim lalu.

"Ya tragis untuk tim yang berjuang di ISL, kalau memang tidak memenuhi (assessment klub professional, Red) terpaksa kembali amatir. Ini bukan kemauan PSSI, tapi kemauan dari AFC. Kita sudah terjebak dengan keputusan AFC, karena sebenarnya sejak tahun 2008 kita sudah diberi kelonggaran," jelas Djohar.

"Selama tiga tahun kita terlena, selama itu klub harusnya diberi kesempatan berbenah dan sekarang kita mendapat deadline dari AFC hingga tanggal 14 Oktober nanti. Mau tidak mau kita harus ikut dan sudah tidak diberi kelonggaran lagi, hanya dua pilihan, profesional atau amatir," sambungnya.

Menurut mengakuan Djohar, sudah tidak ada pilihan bagi sepakbola Indonesia untuk menjadi sebuah industri, setelah sekian lama terbuai dengan kucuran dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Salah satu syaratnya, klub professional itu harus berbentuk PT (Perseroan Terbatas). Seperti yang telah dilakukan Arema sejak tahun 2004 lalu, tepatnya sebelum kompetisi ISL bergulir.

Untuk itu semua tidak segan-segan Djohar meminta klub lain yang ingin professional untuk belajar ke Arema Indonesia. Bahkan sebelum dirinya terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, Arema menurutnya sudah jadi percontohan klub professional dan tanpa asupan APBD sejak berdirinya. "Saya katakan, sebelum saya jadi Ketua Umum PSSI, belajarlah pada Arema yang tanpa APBD bisa hidup. Belajarlah pada Aremania, yang malu bila masuk ke stadion kalau tanpa bayar tiket. Sedangkan didaerah lain, merasa bangga kalau masuk gratis. Budaya malu kalau tidak bayar ini perlu dikembangkan," terang Djohar.

Sementara itu, terkait kondisi manajemen Arema yang beberapa pekan terakhir ini diramaikan dengan persoalan konflik internal ternyata tak luput dari perhatian Djohar. Ketua Umum PSSI yang mantan pemain PSMS Medan ini pun mengaku siap untuk mempersatukan Arema kembali. (bua/MP)

Save and Share bila Berita ini menarik untuk berbagi dengan orang lain :

Tweet This ! Share On Facebook ! Share On Google Buzz ! Add To Del.icio.us ! Share On Digg ! Share On Reddit ! Share On LinkedIn ! Post To Blogger ! Share On StumbleUpon ! Share On Friend Feed ! Share On MySpace ! Share On Yahoo Buzz ! Share On Google Reader ! Google Bookmark ! Send An Email ! Lintas Berita !

ARTIKEL TERKAIT :

 
© 2016 Beranda | Indeks