
http://www.youtube.com/watch?v=JVm9eBLPZaoendofvid
Dari Garapan Universitas Muhammadiyah YogyakartaSukses Arema Indonesia dalam Indonesia Super league (ISL) tak dibiarkan berlalu begitu saja. Paling tidak mahasiswa broadcasting ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), memberikan kado istimewa bagi Arema Indonesia. Prestasi ciamik yang pantas didokumentasikan itu diwujudkan dalam film dokumenter berjudul AREMA ‘AGAMA KEDUA'. Film karya mahasiswa UMY ini rencananya dirilis pasca Idul Fitri di Kota Malang. Film besutan sutradara mahasiswa UMY, Rio Armando, menampilkan berbagai sisi menarik dari kesetiaan Aremania, suporter setia Arema Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok suporter yang paling atraktif dan kratif.
“Film ini menggunakan empat nara sumber utama yaitu Lucky Acub Zainal, Ade d’Kross, Ovan Tobing dan Fery Agusta untuk menarasikan sejarah berdirinya Arema Indonesia, perkembangan Arema Indonesia, awal berdirinya Aremania sampai relasi Aremania dengan Bonek, suporter Persebaya, yang selama ini dianggap sebagai musuh bebuyutan mereka,” jelas Rio.
Selain ingin mengenalkan berbagai sisi menarik Aremania, film tersebut ingin mengungkapkan sisi lain dari Arema itu sendiri. Apalagi menurut data Asian Football Confederation (AFC) pada musim pertandingan 2009/2010 disaksikan oleh suporter dalam jumlah paling banyak yaitu rata-rata 30 ribu penonton per pertandingan.
Line producer film Arema ‘Agama Kedua’, Fajar Junaedi M.Si menyatakan, Arema Indonesia berbeda dengan klub sepakbola lain yang ada di Indonesia. Perbedaannya terletak pada manajemennya. Ketika klub sepakbola lain masih berpegang dan menyusu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Arema Indonesia sejak berdiri mampu bertahan dengan mandiri hingga kini. Hal inilah yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.
“Ini berbeda dengan mayoritas klub di Indonesia yang masih menyusu uang rakyat melalui pos APBD, sebagaimana yang terjadi nyaris di semua klub sepak bola di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Diharapkan dengan film ini, para stakeholders sepak bola di Indonesia, mulai dari manajemen klub sampai dengan suporter menjadi sadar bahwa tanpa menggunakan dana APBD, sebuah klub sepak bola dapat meraih prestasi maksimal,” imbuh Fajar Junaedi M.Si.
Fajar pun berharap seluruh klub sepakbola di Indonesia setelah melihat film dokumenter ini nantinya tidak hanya akan berharap pada dan APBD lagi dan mampu bertahan secara mandiri. Karena saat ini kecenderungan dana yang disalurkan kepada klub sepakbola dianggap sangat membebani APBD dan pembangunan masyarakat di daerah.
“Padahal di luar negeri klub-klub sepakbola mampu bertahan secara mandiri bahkan dapat mendatangkan keuntungan bagi pemilik klub tersebut,” tambah Fajar Junaedi M.Si yang juga dosen broadcasting ilmu komunikasi UMY ini.
Terkait pemilihan judul film yaitu Arema ‘Agama Kedua’, Junaedi menuturkan proses pembuatan film tersebut melalui proses riset atau metoda penelitian. Pada saat riset dan pengambilan gambar, kami melihat ketika atribut boneka singa dilemparkan oleh pemain Persema Malang saat akan melakukan tendangan pojok Aremania langsung marah dan melakukan pelemparan terhadap pemain Persema Malang.
(KR)

















